Aku tersentak, tersadar dari lamunan. Aku teringat bahwa hari ini
tanggal 20 Juni 2010. Memoriku berjalan mundur menembus lorong-lorong waktu
setahun silam. Masa ketika aku berperan seabagai tokoh utama dalam sebuah kisah
yang tak berakhir hingga hari ini. Kisah yang lekat dalam ingatan dan
perasaanku. Hingga kumerasa harus
menulisnya sebagai tanda bahwa kisah ini memang belum berakhir. Aku
berkeyakinan bahwa kisah ini akan menemui ending-nya dan akan kita lalui
bersama, Zizarsyada.
Walau sering aku merasa akan keniscayaan kita mengubur dalam kisah ini,
namun tidak bagiku. Adalah suatu hal yang sulit untuk melupakan bagian dari
babak-babak kehidupan. Sering kali
kukatakan, kebersamaanku denganmu adalah anugerah terindah Tuhan untukku.
Bukankah salah satu tanda orang yang syukur nikmat adalah mereka yang selalu
ingat akan anugerah itu?
Setidaknya, itulah yang
kurasakan, dan itu pula yang kuharapkan. Meski pada kenyataan aku hanyalah
seorang yang tunduk pada titah pepatah, bagai pungguk merindukan bulan. Dan
salah satu bukti cinta pada seseorang yang telah pergi adalah dengan
mengenangnya. Segala yang melekat pada dirimu akan selalu kutempatkan pada sisi-sisi
terdekat kehidupanku, walau dirimu tak pernah menghendaki semua itu. Namun bagiku,
itulah pengobat hati dan penawar rindu.
Kembali kubuka catatan-catatan pendek
pada agenda hijau, kubuka pula pesan-pesan singkat yang setahun silam pernah
mampir di mobile-ku. Senyum, gemas, lalu melamun, itulah sikapku. Kadang
berseri, rindu, lantas lemas, itulah yang kurasakan. Aku seolah berada pada
masa itu. Berada pada kisah-kisah yang sampai hari ini tak kunjung lekang.
Kisah di Kerandangan, di Udayana, di MAN 2, di LPM, di kos-mu, dan tak
terkecuali di masjid itu, yang menjadi saksi terakhir perjalanan kisah
kita.
Kecewa, adalah sesuatu yang kita rasakan manakala apa yang sesunggunya
kita harapkan tak sesuai dengan apa yang kita alami. Begitulah aku pada
masa-masa itu. Kalau kau katakan dirimu rapuh dan tak mampu menghadapi hidup
dengan masalah yang kau hadapi, mungkin aku merasakan hal yang lebih dari itu.
Hingga aku tak sekedar merasa kecewa, melainkan benci pada sikapmu, tapi tidak
pada dirimu. Aku memang tak bisa paksakan apa yang menjadi hak dan pilihanmu,
namun semudah itukah?