Sudah lebih dari seminggu, Bandara Internasional Lombok (BIL) dibuka untuk umum. tak pelak lagi, semua perhatian tertuju ke Lombok ketika pada tanggal 1 Oktober lalu dilakukan penerbangan pertama. Penerbangan perdana yang memberikan kesempatan bagi masyarakat udik menikmati bagaimana rasanya menaiki pesawat terbang. Tak ayal semua jadi kegirangan, bahkan tuan guru yang dalam frame kita adalah orang manusia yang selalu menjaga hati dan perilakunya berpose dengan kamera HP layaknya anak muda yang sedang narsis-narsisnya.
Di luar pesawat, areal bandara yang dikhususkan untuk masyarakat pengguna jasa transportasi udara di jejali oleh pedagang-pedagang asongan yang menjajakan dagangannya pada areal yang semestinya tidak untuk itu. Mereka tiada lain orang-orang tempatan, yang masih merasa memiliki lahan sendiri, meski semuanya sudah beralih tangan. apa yang mereka lakukan itu menjadi sorotan khusus para fotografer dan pemburu gambar sebagai santapan media massa baik cetak, elektronik maupun online.
Lebih ke luar lagi, kemanan selalu mengintai para pengunjung dan penumpang pengguna jasa transportasi udara. Entah sudah berapa kasus perampokan, penjambretan, pemalakan dan tindak kriminal sejenis yang terjadi, itupun belum ada tindakan berarti dari aparat berwenang.
Itulah sekelumit cerita dari beroperasinya BIL. Bandar udara bertitel "internasional" namun masih sangat tradisional. Cerita menggemaskan sekaligus mengerikan. Namun tak semestinya kita bersikap antipati bahkan apatis akan semua hal itu. Sudah semestinya kita membangun optimisme yang kuat untuk perubahan ke depannya. Jangan sampai beberapa cerita tadi memupus harapan kita untuk membangun daerah tercinta menjadi lebih maju dan bermartabat.
Tak jauh berbeda dengan Bandara Selaparang dulunya, cerita serupa pun tak jarang terjadi. Butuh waktu lama menata bandara itu hingga menjadi lebih baik seperti yang kita nikmati pelayananan terakhirnya 30 September lalu. Hal semacam itulah yang kita harapkan dari pemerintah, pembenahan dalam segala infrastruktur tanpa melupakan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Keamanan yang menjadi momok sering kali bermuara pada daerah sekitar perut. Artinya, keadaan perekonomian masyarakat yang tak kunjung membawa mereka pada kata dan rasa sejatera lah yang memicu semuanya. Karena sering kali pemerintah melakukan suatu pembenahan secara fisik dan mental, namun tidak melibatkan masyarakat setempat. Terlepas dari rendahnya sumber daya manusia tempatan, pemerintah pun harus memikirkan celah-celah yang kira-kira bisa mereka masuki sesuai dengan kadar kemampuan mereka. Itulah yang diistilahkan dengan "bina lingkungan".
Pada akhirnya kita semua berharap semoga dengan beroperasinya BIL semakin membangun kesadaran kita dalam menumbuhkan taraf hidup masyarakat NTB dan Lombok khususnya, demi tercapainya NTB yang bermutu. Momentum poengoperasian BIL adalah saat yang tepat untuk mengawali langkah baru menuju perubahan.
Di luar pesawat, areal bandara yang dikhususkan untuk masyarakat pengguna jasa transportasi udara di jejali oleh pedagang-pedagang asongan yang menjajakan dagangannya pada areal yang semestinya tidak untuk itu. Mereka tiada lain orang-orang tempatan, yang masih merasa memiliki lahan sendiri, meski semuanya sudah beralih tangan. apa yang mereka lakukan itu menjadi sorotan khusus para fotografer dan pemburu gambar sebagai santapan media massa baik cetak, elektronik maupun online.
Lebih ke luar lagi, kemanan selalu mengintai para pengunjung dan penumpang pengguna jasa transportasi udara. Entah sudah berapa kasus perampokan, penjambretan, pemalakan dan tindak kriminal sejenis yang terjadi, itupun belum ada tindakan berarti dari aparat berwenang.
Itulah sekelumit cerita dari beroperasinya BIL. Bandar udara bertitel "internasional" namun masih sangat tradisional. Cerita menggemaskan sekaligus mengerikan. Namun tak semestinya kita bersikap antipati bahkan apatis akan semua hal itu. Sudah semestinya kita membangun optimisme yang kuat untuk perubahan ke depannya. Jangan sampai beberapa cerita tadi memupus harapan kita untuk membangun daerah tercinta menjadi lebih maju dan bermartabat.
Tak jauh berbeda dengan Bandara Selaparang dulunya, cerita serupa pun tak jarang terjadi. Butuh waktu lama menata bandara itu hingga menjadi lebih baik seperti yang kita nikmati pelayananan terakhirnya 30 September lalu. Hal semacam itulah yang kita harapkan dari pemerintah, pembenahan dalam segala infrastruktur tanpa melupakan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Keamanan yang menjadi momok sering kali bermuara pada daerah sekitar perut. Artinya, keadaan perekonomian masyarakat yang tak kunjung membawa mereka pada kata dan rasa sejatera lah yang memicu semuanya. Karena sering kali pemerintah melakukan suatu pembenahan secara fisik dan mental, namun tidak melibatkan masyarakat setempat. Terlepas dari rendahnya sumber daya manusia tempatan, pemerintah pun harus memikirkan celah-celah yang kira-kira bisa mereka masuki sesuai dengan kadar kemampuan mereka. Itulah yang diistilahkan dengan "bina lingkungan".
Pada akhirnya kita semua berharap semoga dengan beroperasinya BIL semakin membangun kesadaran kita dalam menumbuhkan taraf hidup masyarakat NTB dan Lombok khususnya, demi tercapainya NTB yang bermutu. Momentum poengoperasian BIL adalah saat yang tepat untuk mengawali langkah baru menuju perubahan.