LOK BAOK
Sabtu, 12 November 2011
IN MEMORIAM...
Minggu, 09 Oktober 2011
Langkah Awal Menuju NTB Bermutu
Di luar pesawat, areal bandara yang dikhususkan untuk masyarakat pengguna jasa transportasi udara di jejali oleh pedagang-pedagang asongan yang menjajakan dagangannya pada areal yang semestinya tidak untuk itu. Mereka tiada lain orang-orang tempatan, yang masih merasa memiliki lahan sendiri, meski semuanya sudah beralih tangan. apa yang mereka lakukan itu menjadi sorotan khusus para fotografer dan pemburu gambar sebagai santapan media massa baik cetak, elektronik maupun online.
Lebih ke luar lagi, kemanan selalu mengintai para pengunjung dan penumpang pengguna jasa transportasi udara. Entah sudah berapa kasus perampokan, penjambretan, pemalakan dan tindak kriminal sejenis yang terjadi, itupun belum ada tindakan berarti dari aparat berwenang.
Itulah sekelumit cerita dari beroperasinya BIL. Bandar udara bertitel "internasional" namun masih sangat tradisional. Cerita menggemaskan sekaligus mengerikan. Namun tak semestinya kita bersikap antipati bahkan apatis akan semua hal itu. Sudah semestinya kita membangun optimisme yang kuat untuk perubahan ke depannya. Jangan sampai beberapa cerita tadi memupus harapan kita untuk membangun daerah tercinta menjadi lebih maju dan bermartabat.
Tak jauh berbeda dengan Bandara Selaparang dulunya, cerita serupa pun tak jarang terjadi. Butuh waktu lama menata bandara itu hingga menjadi lebih baik seperti yang kita nikmati pelayananan terakhirnya 30 September lalu. Hal semacam itulah yang kita harapkan dari pemerintah, pembenahan dalam segala infrastruktur tanpa melupakan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Keamanan yang menjadi momok sering kali bermuara pada daerah sekitar perut. Artinya, keadaan perekonomian masyarakat yang tak kunjung membawa mereka pada kata dan rasa sejatera lah yang memicu semuanya. Karena sering kali pemerintah melakukan suatu pembenahan secara fisik dan mental, namun tidak melibatkan masyarakat setempat. Terlepas dari rendahnya sumber daya manusia tempatan, pemerintah pun harus memikirkan celah-celah yang kira-kira bisa mereka masuki sesuai dengan kadar kemampuan mereka. Itulah yang diistilahkan dengan "bina lingkungan".
Pada akhirnya kita semua berharap semoga dengan beroperasinya BIL semakin membangun kesadaran kita dalam menumbuhkan taraf hidup masyarakat NTB dan Lombok khususnya, demi tercapainya NTB yang bermutu. Momentum poengoperasian BIL adalah saat yang tepat untuk mengawali langkah baru menuju perubahan.
Jumat, 23 September 2011
Sajak Palsu
Kamis, 22 September 2011
KINI AKU TAHU
Dan kini kecurigaan itu terjawab sudah.
Engkau memang sudah tak memiliki rasa padaku.
Rasa cinta yang kuharapkan selama ini kini telah engkau alihkan untuk orang lain.
Aku coba bertahan tanpa rasa cemburu.
Namun tak mudah lakukan itu karena dirimu belum tergantikan di hatiku.
Meski hanya rasa iri, aku memendam rasa itu dalam waktu lama.
Sebab dengan bangganya engkau pampang di wall facebook-mu..
-Berpacaran dgn: Hendro Prasetyo-
Aku iri ketika diriku masih di hatimu tak pernah kau lakukan hal semacam itu.
Mungkin engkau malu memiliki pacar sepertiku.
Aku sadari...
Tapi aku tak bisa berbuat banyak.
Aku tak bisa paksakan kehendakmu.
Namun asal engkau tahu..
Dirimu masih di hatiku.
I Love U, A'
Selasa, 12 Juli 2011
RINDU
Malam ini kubuka lagi wall facebook-ku, melihat komen dan pesan dari teman. Begitu seabliknya. Namun ada satu wajah yang terpampang di wall-ku, wajah yang membuat hatiku sdikit meringis. Wajah yang selama ini sanghat ku kenali, sangat ku banggakan, sangat ku syangi. hingga seakaan aku tak ingin berpisah dengannya.
Kami memang tak saling pandang, sebab dia di seberang pulau. Mesti nyeberang dua kali via ferry baru bisa ketemu. Ya, Jawa Timur. itulah tempatnya. Tepatnya di Madiun desa Geger. Wanita yg selama ini kusayang tinggal di sana. Namun aku hanya bisa mengenang cerita dengannya. Dan kini kenangan demi kenangan berseliewran di otakku, membawa aku kembali bersamanya. Kembali berdua walau hanya lewat ponsel.
Jujur, aku rindu akan dia. malam-malam dengan suasana seperti ini mengingatkanku pada dirinya. Aku merasa sulit melupakannya. Sulit menghapus jejak cintanya, walau kini cerita telah berbeda. Berpisah, mungkin kata ini terlalu ekstrim untuk menggambarkan jalinan kami sebab ia tak ingin kita berpisah. Hanya izin orang tua yang membelenggu, hingga ia memutuskan seperti ini.
Untuk beberapa hari ini aku merasa lemah jika mengenangnya. Sedikit rapuh, hingga menurunkan semangat kerja dan gairahku dalam beraktifitas. Dan entah sampai kapan aku merasakan hal ini. Karena aku begitu mencintainya.
A, aku RUNDU, Syg...