Sabtu, 12 November 2011

IN MEMORIAM...

Aku tersentak, tersadar dari lamunan. Aku teringat bahwa hari ini tanggal 20 Juni 2010. Memoriku berjalan mundur menembus lorong-lorong waktu setahun silam. Masa ketika aku berperan seabagai tokoh utama dalam sebuah kisah yang tak berakhir hingga hari ini. Kisah yang lekat dalam ingatan dan perasaanku. Hingga kumerasa  harus menulisnya sebagai tanda bahwa kisah ini memang belum berakhir. Aku berkeyakinan bahwa kisah ini akan menemui ending-nya dan akan kita lalui bersama, Zizarsyada.
Walau sering aku merasa akan keniscayaan kita mengubur dalam kisah ini, namun tidak bagiku. Adalah suatu hal yang sulit untuk melupakan bagian dari babak-babak kehidupan.  Sering kali kukatakan, kebersamaanku denganmu adalah anugerah terindah Tuhan untukku. Bukankah salah satu tanda orang yang syukur nikmat adalah mereka yang selalu ingat akan anugerah itu?
 Setidaknya, itulah yang kurasakan, dan itu pula yang kuharapkan. Meski pada kenyataan aku hanyalah seorang yang tunduk pada titah pepatah, bagai pungguk merindukan bulan. Dan salah satu bukti cinta pada seseorang yang telah pergi adalah dengan mengenangnya. Segala yang melekat pada dirimu akan selalu kutempatkan pada sisi-sisi terdekat kehidupanku, walau dirimu tak pernah menghendaki semua itu. Namun bagiku, itulah pengobat hati dan penawar rindu.
 Kembali kubuka catatan-catatan pendek pada agenda hijau, kubuka pula pesan-pesan singkat yang setahun silam pernah mampir di mobile-ku. Senyum, gemas, lalu melamun, itulah sikapku. Kadang berseri, rindu, lantas lemas, itulah yang kurasakan. Aku seolah berada pada masa itu. Berada pada kisah-kisah yang sampai hari ini tak kunjung lekang. Kisah di Kerandangan, di Udayana, di MAN 2, di LPM, di kos-mu, dan tak terkecuali di masjid itu, yang menjadi saksi terakhir perjalanan kisah kita. 
Kecewa, adalah sesuatu yang kita rasakan manakala apa yang sesunggunya kita harapkan tak sesuai dengan apa yang kita alami. Begitulah aku pada masa-masa itu. Kalau kau katakan dirimu rapuh dan tak mampu menghadapi hidup dengan masalah yang kau hadapi, mungkin aku merasakan hal yang lebih dari itu. Hingga aku tak sekedar merasa kecewa, melainkan benci pada sikapmu, tapi tidak pada dirimu. Aku memang tak bisa paksakan apa yang menjadi hak dan pilihanmu, namun semudah itukah?

Minggu, 09 Oktober 2011

Langkah Awal Menuju NTB Bermutu

Sudah lebih dari seminggu, Bandara Internasional Lombok (BIL) dibuka untuk umum. tak pelak lagi, semua perhatian tertuju ke Lombok ketika pada tanggal 1 Oktober lalu dilakukan penerbangan pertama. Penerbangan perdana yang memberikan kesempatan bagi masyarakat udik menikmati bagaimana rasanya menaiki pesawat terbang. Tak ayal semua jadi kegirangan, bahkan tuan guru yang dalam frame kita adalah orang manusia yang selalu menjaga hati dan perilakunya berpose dengan kamera HP layaknya anak muda yang sedang narsis-narsisnya.
Di luar pesawat, areal bandara yang dikhususkan untuk masyarakat pengguna jasa transportasi udara di jejali oleh pedagang-pedagang asongan yang menjajakan dagangannya pada areal yang semestinya tidak untuk itu. Mereka tiada lain orang-orang tempatan, yang masih merasa memiliki lahan sendiri, meski semuanya sudah beralih tangan. apa yang mereka lakukan itu menjadi sorotan khusus para fotografer dan pemburu gambar sebagai santapan media massa baik cetak, elektronik maupun online.
Lebih ke luar lagi, kemanan selalu mengintai para pengunjung dan penumpang pengguna jasa transportasi udara. Entah sudah berapa kasus perampokan, penjambretan, pemalakan dan tindak kriminal sejenis yang terjadi, itupun belum ada tindakan berarti dari aparat berwenang.

Itulah sekelumit cerita dari beroperasinya BIL. Bandar udara bertitel "internasional" namun masih sangat tradisional. Cerita menggemaskan sekaligus mengerikan. Namun tak semestinya kita bersikap antipati bahkan apatis akan semua hal itu. Sudah semestinya kita membangun optimisme yang kuat untuk perubahan ke depannya. Jangan sampai beberapa cerita tadi memupus harapan kita untuk membangun daerah tercinta menjadi lebih maju dan bermartabat.
Tak jauh berbeda dengan Bandara Selaparang dulunya, cerita serupa pun tak jarang terjadi. Butuh waktu lama menata bandara itu hingga menjadi lebih baik seperti yang kita nikmati pelayananan terakhirnya 30 September lalu. Hal semacam itulah yang kita harapkan dari pemerintah, pembenahan dalam segala infrastruktur tanpa melupakan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Keamanan yang menjadi momok sering kali bermuara pada daerah sekitar perut. Artinya, keadaan perekonomian masyarakat yang tak kunjung membawa mereka pada kata dan rasa sejatera lah yang memicu semuanya. Karena sering kali pemerintah melakukan suatu pembenahan secara fisik dan mental, namun tidak melibatkan masyarakat setempat. Terlepas dari rendahnya sumber daya manusia tempatan, pemerintah pun harus memikirkan celah-celah yang kira-kira bisa mereka masuki sesuai dengan kadar kemampuan mereka. Itulah yang diistilahkan dengan "bina lingkungan".
Pada akhirnya kita semua berharap semoga dengan beroperasinya BIL semakin membangun kesadaran kita dalam menumbuhkan taraf hidup masyarakat NTB dan Lombok khususnya, demi tercapainya NTB yang bermutu. Momentum poengoperasian BIL adalah saat yang tepat untuk mengawali langkah baru menuju perubahan.

Jumat, 23 September 2011

Sajak Palsu


Selamat pagi pak, selamat pagi bu,
ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.
Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.
Di akhir sekolah mereka terperangah
melihat hamparan nilai mereka yang palsu.
Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka
ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop
berisi perhatian dan rasa hormat palsu.
Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu,
akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu
sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu
dengan nilai-nilai palsu yang baru.
Masa sekolah demi masa sekolah berlalu,
Merekapun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu,
ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian mereka guru, ilmuwan atau seniman palsu.
Dengan gairah tinggi merka menghambur
ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu debagai panglima palsu.
Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu
dengan ekspor dan impor palsu
yang mengirim dan mendatangkan berbagai dagangan kelontongan
dengan kwalitas palsu.

Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu, tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu.
Masyarakatpun berniaga dengan uang palsu
yang dijamin devisa palsu.
Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu,
sehingga semua blingsatan dan terprosok krisis
yang meruntuhkan pemerintah palsu
ke dalam nasib buruk palsu.
Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu
dan mendebatkan gagasan-gagsan palsu
di tengah seminar dan dialog-dialog palsu.
Masyarakat terbawa demokrasi palsu
Yang berkibar-kibar begitu nyaring.
Dan palsu.

Agus R. Sarjono

saya bingung..
tes juluk maeh..

Kamis, 22 September 2011

KINI AKU TAHU

Di awal-awal aku begitu resah dengan sikapmu, hingga menaruh rasa curiga di hati.
Dan kini kecurigaan itu terjawab sudah.
Engkau memang sudah tak memiliki rasa padaku.
Rasa cinta yang kuharapkan selama ini kini telah engkau alihkan untuk orang lain.

Aku coba bertahan tanpa rasa cemburu.
Namun tak mudah lakukan itu karena dirimu belum tergantikan di hatiku.
Meski hanya rasa iri, aku memendam rasa itu dalam waktu lama.
Sebab dengan bangganya engkau pampang di wall facebook-mu..
-Berpacaran dgn: Hendro Prasetyo-

Aku iri ketika diriku masih di hatimu tak pernah kau lakukan hal semacam itu.
Mungkin engkau malu memiliki pacar sepertiku.
Aku sadari...

Tapi aku tak bisa berbuat banyak.
Aku tak bisa paksakan kehendakmu.
Namun asal engkau tahu..

Dirimu masih di hatiku.

I Love U, A'

Selasa, 12 Juli 2011

RINDU

Malam ini kubuka lagi wall facebook-ku, melihat komen dan pesan dari teman. Begitu seabliknya. Namun ada satu wajah yang terpampang di wall-ku, wajah yang membuat hatiku sdikit meringis. Wajah yang selama ini sanghat ku kenali, sangat ku banggakan, sangat ku syangi. hingga seakaan aku tak ingin berpisah dengannya.

Kami memang tak saling pandang, sebab dia di seberang pulau. Mesti nyeberang dua kali via ferry baru bisa ketemu. Ya, Jawa Timur. itulah tempatnya. Tepatnya di Madiun desa Geger. Wanita yg selama ini kusayang tinggal di sana. Namun aku hanya bisa mengenang cerita dengannya. Dan kini kenangan demi kenangan berseliewran di otakku, membawa aku kembali bersamanya. Kembali berdua walau hanya lewat ponsel.

Jujur, aku rindu akan dia. malam-malam dengan suasana seperti ini mengingatkanku pada dirinya. Aku merasa sulit melupakannya. Sulit menghapus jejak cintanya, walau kini cerita telah berbeda. Berpisah, mungkin kata ini terlalu ekstrim untuk menggambarkan jalinan kami sebab ia tak ingin kita berpisah. Hanya izin orang tua yang membelenggu, hingga ia memutuskan seperti ini.

Untuk beberapa hari ini aku merasa lemah jika mengenangnya. Sedikit rapuh, hingga menurunkan semangat kerja dan gairahku dalam beraktifitas. Dan entah sampai kapan aku merasakan hal ini. Karena aku begitu mencintainya.

A, aku RUNDU, Syg...

Rabu, 25 Maret 2009

rumah baru

pengen nyoba lokasi lain buat nongkrong walau g' sering-sering berhubung kurang kepeng, hehe....