Minggu, 13 November 2011

In Memoriam...

Aku tersentak, tersadar dari lamunan. Aku teringat bahwa hari ini tanggal 20 Juni 2010. Memoriku berjalan mundur menembus lorong-lorong waktu setahun silam. Masa ketika aku berperan seabagai tokoh utama dalam sebuah kisah yang tak berakhir hingga hari ini. Kisah yang lekat dalam ingatan dan perasaanku. Hingga kumerasa  harus menulisnya sebagai tanda bahwa kisah ini memang belum berakhir. Aku berkeyakinan bahwa kisah ini akan menemui ending-nya dan akan kita lalui bersama, Zizarsyada.
Walau sering aku merasa akan keniscayaan kita mengubur dalam kisah ini, namun tidak bagiku. Adalah suatu hal yang sulit untuk melupakan bagian dari babak-babak kehidupan.  Sering kali kukatakan, kebersamaanku denganmu adalah anugerah terindah Tuhan untukku. Bukankah salah satu tanda orang yang syukur nikmat adalah mereka yang selalu ingat akan anugerah itu?
 Setidaknya, itulah yang kurasakan, dan itu pula yang kuharapkan. Meski pada kenyataan aku hanyalah seorang yang tunduk pada titah pepatah, bagai pungguk merindukan bulan. Dan salah satu bukti cinta pada seseorang yang telah pergi adalah dengan mengenangnya. Segala yang melekat pada dirimu akan selalu kutempatkan pada sisi-sisi terdekat kehidupanku, walau dirimu tak pernah menghendaki semua itu. Namun bagiku, itulah pengobat hati dan penawar rindu.
 Kembali kubuka catatan-catatan pendek pada agenda hijau, kubuka pula pesan-pesan singkat yang setahun silam pernah mampir di mobile-ku. Senyum, gemas, lalu melamun, itulah sikapku. Kadang berseri, rindu, lantas lemas, itulah yang kurasakan. Aku seolah berada pada masa itu. Berada pada kisah-kisah yang sampai hari ini tak kunjung lekang. Kisah di Kerandangan, di Udayana, di MAN 2, di LPM, di kos-mu, dan tak terkecuali di masjid itu, yang menjadi saksi terakhir perjalanan kisah kita. 
Kecewa, adalah sesuatu yang kita rasakan manakala apa yang sesunggunya kita harapkan tak sesuai dengan apa yang kita alami. Begitulah aku pada masa-masa itu. Kalau kau katakan dirimu rapuh dan tak mampu menghadapi hidup dengan masalah yang kau hadapi, mungkin aku merasakan hal yang lebih dari itu. Hingga aku tak sekedar merasa kecewa, melainkan benci pada sikapmu, tapi tidak pada dirimu. Aku memang tak bisa paksakan apa yang menjadi hak dan pilihanmu, namun semudah itukah?